Kritik Desain Papan Jalan Simpang Unsoed: Redundansi Informasi

Desain grafis pada fasilitas publik memiliki satu tujuan utama: menyampaikan informasi secara cepat, jelas, dan tanpa kebingungan. Papan informasi di jalan raya dibaca oleh pengendara yang bergerak cepat, sehingga setiap elemen visual harus memiliki fungsi yang efisien. Namun, papan nama jalan dan informasi “Simpang Unsoed” yang memuat layanan pengaduan gangguan traffic light menunjukkan kegagalan mendasar dalam prinsip tata letak informasi. Alih-alih merancang pesan yang padat, pembuat papan justru terjebak dalam pengulangan teks yang membuang ruang visual tanpa memberikan nilai tambah bagi pembacanya.

Kesalahan desain yang paling mencolok terletak pada penyusunan kontak layanan pengaduan di bagian bawah papan. Terdapat pemisahan antara layanan “SMS” di baris pertama dan “WhatsApp” di baris kedua, tetapi kedua baris tersebut memuat deretan angka yang sama persis, yaitu 089624321458 dan 089624321759. Dari sudut pandang desain informasi, hal ini adalah redundansi yang fatal. Menuliskan sederet nomor ponsel belasan digit secara berulang untuk provider yang identik membuat area bawah papan terlihat penuh sesak. Tumpukan angka ini justru menurunkan tingkat keterbacaan (legibility) dan membebani kognitif pengendara yang hanya memiliki waktu beberapa detik untuk menangkap informasi.

Solusi untuk masalah tipografi ini sangat sederhana dan akan menghasilkan desain yang jauh lebih elegan. Pembuat papan cukup menggabungkan kedua metode komunikasi ke dalam satu baris fungsional, misalnya dengan format: “SMS / WA: 089624321458 – 089624321759”. Dengan memangkas pengulangan angka, desainer secara otomatis akan mendapatkan ruang kosong ekstra (white space). Ruang bernapas ini kemudian dapat dimanfaatkan untuk memperbesar ukuran font nomor telepon itu sendiri, sehingga informasi krusial menjadi jauh lebih menonjol dan mudah dibaca dari jarak jauh.

Kasus visual di Simpang Unsoed ini menjadi contoh nyata bahwa perancangan media publik bukan sekadar meletakkan teks ke dalam bidang hijau agar terlihat seperti rambu resmi, melainkan tentang User Experience (UX) di ruang fisik. Pelaksana teknis perlu memahami prinsip efisiensi komunikasi visual. Ketika sebuah instruksi pengaduan bisa disampaikan secara efektif dan rapi dalam satu baris teks gabungan, memecahnya menjadi dua baris yang terduplikasi hanyalah sebuah kesia-siaan tata letak yang justru mengorbankan fungsi utama dari papan informasi tersebut.